25.10.2014 08:32 - in: Tim S

    Pidato Agnelli di majelis pemegang saham

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Pidato lengkap sang Presiden klub di pertemuan para pemegang saham tahun ini di Juventus Stadium.

    Presiden Juventus Andrea Agnelli membuka pertemuan para pemegang saham klub tahun ini dengan pidato berikut:

    Hanya sekali dalam sejarah Juventus pernah mengalami periode yang serupa dengan periode yang kita alami saat ini. Pada bulan Mei tahun ini, kita telah memenangkan Scudetto ketiga kita secara beruntun, suatu prestasi yang tak pernah kita cicipi sejak tahun 1930-an. Kita di Juventus mampu mengulangi sejarah itu – terjadi 80 tahun yang lalu – yang kemudian menjadi prasasti dalam sejarah sepakbola Italia.

    Tak satupun pemain yang memakai seragam hitam-putih yang terkenal itu ingin berhenti pada titik ini. “Kemenangan terpenting adalah kemenangan berikutnya”, adalah mantra kita. Aspek keolahragaan kita memiliki pondasi kokoh dan keutamaan itu ada pada diri Massimiliano Allegri, seorang pelatih yang telah menunjukkan dirinya sebagai seorang pemenang. Bersama dengan Fabio Paratici, Pavel Nedved dan sekelompok pesepakbola yang lebih memiliki kemampuan dalam menyikapi berbagai tantangan yang menanti di depan, Allegri saat ini sedang berupaya untuk memenangkan Scudetto keempat kita. Hal itu tentunya akan menjadi kisah yang melegenda.

    Yang terpenting adalah capaian-capaian keolahragaan ini didasari oleh kepengurusan yang kokoh, kepengurusan yang telah tegap berdiri sejak 2010, ketika saya diberi kehormatan memimpin sebagai presiden klub di depan majelis pemegang saham ini untuk pertama kalinya. Struktur dan tingkat pemasukan kita yang merupakan buah kerja para pria dan wanita yang ingin saya sampaikan rasa terimakasih saya kepada mereka secara pribadi, telah membawa Juventus kepada total pendapatan yang mencapai lebih dari 280.5 juta Euro. Ini merupakan kumpulan dari hasil pendapatan di hari pertandingan bersama dengan pendapatan dari hak siar televisi dan iklan. Jika kita tambahkan ini kepada jumlah pemasukan kotor dari “manajemen pesepakbola” maka keseluruhan keuntungan melampaui angka 300 juta euro untuk kali pertama dalam sejarah. Angka detilnya adalah 315.8 juta Euro. Fakta bahwa jumlah tersebut sudah dipotong pajak dan telah menunjukkan keuntungan operasional terbesar untuk pertama kalinya dalam 4 tahun – salah satu tujuan yang kita sendiri rencanakan – melengkapi kemajuan kita yang hanya sedikit orang bisa percaya.

    Apakah lantas semuanya baik? Tidak.

    Anda perlu melihat ke belakang sejenak dan memandang sepakbola Italia secara objektif untuk mengetahui bahwa sepakbola Italia sedang mengalami kemunduran. Beberapa ahli cukup berani mengatakan bahwa mengingat kemerosotan Italia di segala bidang, perkembangan industri sepakbola kita – yang masih dinilai inferior dibanding negara lain – seharusnya melegakan kita. Itu bukan masalahnya, sebab perkembangan sepakbola berhubungan erat dengan perubahan pasar penyiaran TV.

    Kurang dari 20 tahun yang lalu, Inggris, Spanyol, dan Jerman belajar dari Italia, tapi sekarang terbalik: 1) Dalam hal tingkat pendapatan; 2) kelangsungan bisnis; 3) hasil-hasil pertandingan; 4) jumlah penonton rata-rata yang hadir di stadion; dan 5) ranking UEFA. Saat ini, kita bahkan jungkir-balik mempertahankan posisi di peringkat keempat dari ancaman Portugal.

    Tingkat pendapatan yang kami sampaikan kepada anda semua hari ini sekali lagi mengukuhkan Juventus berada di antara klub-klub sepakbola teratas di dunia, dan tentunya rangking UEFA kita meningkat. Namun saingan utama kita – Real Madrid, Bayern Munich, Manchester United dan Barcelona – telah meninggalkan kita jauh di belakang. Tak ada tim Italia yang telah mampu berkembang dengan baik, tanda yang sangat jelas akan adanya pembatasan-pembatasan struktural yang terbukti menenggelamkan sepakbola di negeri kita.

    Karl Krauss pernah mengatakan bahwa salah satu penyakit yang paling terasa biasa adalah diagnosa (salah kaprah). Pernyataan ini jelas kebenarannya, namun di Italia masih banyak yang percaya bahwa penyakit itu tidak ada. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, pekan-pekan pertandingan Serie-A secara umum menghasilkan pemasukan yang sama jumlahnya dengan Bundesliga, sedikit lebih rendah dari La Liga dan sekitar sepertiga dari penghasilan Premier League. Jika kita bergerak seperti jalannya siput, maka kita semua sudah salah arah. Bundesliga dan La Liga kini menghasilkan pemasukan dua kali lebih banyak dari Serie-A, sementara pendapatan stadion di Italia sudah jauh di bawah 200 juta Euro per-tahun (20% di antaranya dihasilkan oleh Juventus Stadium). Juventus Stadium karena itu tetap menjadi satu-satunya contoh infrastruktur sepakbola mutakhir di Italia, mengingat stadion ini menghasilkan 1/20 dari keseluruhan pemasukan stadion-stadion di Italia.

    Ini tentu tidaklah cukup.

    Sepakbola adalah olahraga rakyat, tapi para fans dan keluarga-keluarga semakin mengabaikan stadion-stadion di Italia. Beberapa kalangan – dengan sedikit mengejutkan – menyalahkan perkembangan siaran televisi. Saya rasa hal ini terlalu sulit untuk dijelaskan, setidaknya karena tanpa keuntungan dari siaran televisi sepakbola Italia mungkin sudah cukup lama mati . Namun kita akan segera menemui nasib seperti itu jika kita tidak mampu bersaing dengan dua liga di atas kita itu (Bundesliga dan La Liga).

    Mengenai rumah kebanggan kita, kita harus terus pastikan para fans memenuhi stadion kita. Berkat Juventus Stadium, kita mampu mencapai rata-rata 90% bangku terisi (ini berita besar saat tiket TIDAK terjual habis). Namun, tim-tim Serie-A lain secara konsisten mencatat keterisian bangku di bawah 50% dan hal ini menunjukkan kemandegan.

    Kemudian muncul persoalan lain. Saat ini kita sedang menghadapi suatu pasar yang sudah benar-benar global. Selama lebih dari 10 tahun terakhir, sepakbola Italia menghilang dari layar-layar televisi di pasar-pasar Barat terbesar dan tidak mampu menemukan alternative-alternatif lain. Di periode yang sama, Spanyol dan Inggris telah giat membangun produk-produk global yang tentu berimplikasi pada pendapatan komersil bagi klub-klubnya. Sebagai contoh, sponsor utama Liverpool saat ini adalah Standard Chartered (membayar klub itu 25 juta per-tahun), yang beroperasi di luar Eropa. Perusahaan ini aktif bergerak secara eksklusif di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Hal ini bagi saya adalah contoh sangat penting yang mengilustrasikan daya tarik kuat yang telah mampu dimanfaatkan Liga Primer Inggris sebagai produk bagi kelangsungan klub-klubnya selama satu dekade terakhir. Semua itu datang bagi mereka setelah perjalanan panjang yang dimulai pada permulaan 1990-an.

    Di sini di Juventus, kita mencoba bangkit dari keterpurukan. Sejak 1 Juli 2015, kesepakatan baru kita dengan Adidas dan kontrak sponsor baru dengan Jeep tentu akan meningkatkan nilai seragam kita, mengembalikannya ke tempat dimana ia bisa berjejer bersama dengan seragam klub-klub top Eropa.

    Meski demikian, melangkahkan kaki ke depan dan kemitraan-kemitraan baru tak boleh terhenti hanya pada persoalan seragam. Perjalanan-perjalanan klub dan media digital saat ini membuka kesempatan-kesempatan dan pasar-pasar internasional baru yang dapat meningkatkan pendapatan kita. Namun sekali lagi, Juventus tak dapat banyak berkembang jika seluruh produk Serie-A tidak melangkah ke depan pula.

    Kekuatan-kekuatan konservatif di dalam sepakbola Italia saat ini nampak berpangku tangan, melindungi kepentingan tertentu baik besar maupun kecil, serta mengutamakan kepentingan pribadi. Namun saya yakin kekuatan-kekuatan ini tak akan mampu membungkam mereka yang menyerukan perubahan.

    Otoritas-otoritas sepakbola pemerintah menunjukkan keterbatasannya di musim panas lalu. Tindakan praktis yang telah kokoh berdiri telah diganti/diabaikan dan sistem tak jelas untuk memilih Presiden Federasi Sepakbola Italia tak mempedulikan pandangan-pandangan para petugas teknis, para pesepakbola, para pelatih, wasit-wasit dan pihak-pihak lain di Serie-A. Hal ini adalah sebuah kekalahan bagi banyak orang dan kemenangan bagi orang-orang yang kurang mengerti dan amoral, yang telah menanamkan benih-benih dukungan mereka sejak sekian lama ketika kelaliman menopang kekuasaan. Namun sepakbola Italia lebih kalah lagi karena semakin tertinggal dan tak memiliki tanda-tanda adanya pembaharuan.  Sekarang hasilnya menampar wajah kita. UEFA memandang kita dengan penuh curiga, begitu pula mata seluruh dunia. Bahkan pemerintah Italia tak mampu mengidentifikasi langkah-langkah strategis dalam mengembangkan peraturan perundang-undangan tentang keamanan stadion.

    Sepakbola, sebagai olahraga itu sendiri, harus dibawa kembali ke pusat industri kita, buang jauh-jauh segala proyek dengan visi jangka pendek. Sudah menjadi tradisi Juventus selalu terbuka untuk berdialog dengan semua orang, namun bukan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat sementara.

    Saya ulangi, sepakbola harus dikembalikan ke pusat perhatian kita. Meninjau kembali besaran skuad-skuad Serie-A, yang menjadi perbincangan akhir-akhir ini, adalah hal yang baik. Namun hal itu harus didukung dengan kebijakan imigrasi yang dapat mengendalikan situasi di dunia yang bergerak secara konstan, demikian pula dengan institusi tim-tim “B”. Hal ini lebih baik dilakukan dengan kepemilikan pemain oleh sejumlah klub, yang hanya akan berlaku bagi pemain-pemain muda dan yang berasal dari daerah-daerah. Klub-klub saingan kita di Eropa memang memiliki pemain-pemain muda di daftar B UEFA dengan penampilan di tim utama lebih banyak daripada rekan-rekan Italia mereka. Ini tidak ada hubungannya dengan soal keberanian, melainkan soal pengelolaan yang hati-hati dan perencanaan ke depan. Hal ini adalah langkah yang dapat dijalankan secara baik oleh tim-tim “B”, berkat hadirnya para pemain muda dari tim-tim cadangan ke tim utama di pertengahan musim.

    Peningkatan dalam pendapatan hak siar televisi selama rentang waktu tiga tahun dari 2015-2018 (20% lebih dari 2012-2015) adalah kenyataan yang harus dapat menguatkan liga sekarang ini, terutama dengan memberikan jaminan bagi klub-klub yang terdegradasi ke Serie-B. Akhir-akhir ini kemungkinan terdegradasi dapat memperparah kehancuran ekonomi kepada kekecewaan dalam hal keolahragaan, yang kemudian berefek lebih jauh yakni memangkas jumlah tim di Lega Pro. Langkah ini (gratifikasi tim Serie-B) akan memberi manfaat dan efisiensi bagi sistem yang telah beroperasi jauh dari tujuannya sejak sekian lama.

    Dalam sebuah buku yang diluncurkan bertahun-tahun lalu oleh Simon Kuper, berjudul “Sepakbola Melawan Musuh”, pengarangnya menulis: “Ketika penggemar sepakbola Inggris hilang, ia pergi ke Italia, dimana ia menemukan banyak pemain terbaik di dunia, pertandingan-pertandingan disiarkan penuh di TV umum dan sejumlah besar surat kabar olahraga. Ia bahkan menemukan cuaca yang cerah!” Demikianlah Serie-A bagi orang Inggris 20 tahun yang lalu. Saya tidaklah mengatakan ini hanya untuk bernostalgia. Saya nyatakan ini dengan ambisi bahwa Italia bisa kembali menjadi idola sekali lagi.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK