13.09.2014 14:14 - in: Tim S

      Profil Udinese

      Share with:
      • 1
      • 3
      • 2
      Didirikan pada 1896, The Zebrette selama 18 tahun terakhir menjaga posisi mereka di liga teratas Italia

      Klub

      Udinese adalah klub penuh sejarah yang berbasis di wilayah Friuli Venezia Giulia, yang terletak di timur laut Italia dan berbatasan dengan Austria dan Slovenia. Mereka mengenakan warna seragam yang sama dengan Juventus – hitam dan putih – strip yang membuat mereka dijuluki Zebrette (Zebra kecil).

      Didirikan pada 1896 sebagai bagian dari Udinese Society of Gymnastic and Fencing (Klub Gimnastik dan Anggar Udinese), Udinese merupakan klub tertua kedua di Italia setelah Genoa, walaupun divisi sepakbola di organisasi tersebut belum terbentuk hingga sekelompok atlit gimnastik memutuskan untuk memulai mendirikan divisi sepakbola pada 1911.

      The Zebrette ikut serta dalam turnamen yang diakui oleh FIGC untuk pertama kalinya pada 1912/13 saat mereka bertanding melawan Petraca dan Padova di Campionato Promozione, dan berakhir sebagai juara ke dua.

      Musim 1920/21 dapat dikatakan sebagai momentum yang akan selalu dikenang, dimana Gino Belloto menjalani debutnya, diama rekor penampilannya bersama klub selama 17 musim belum dapat dipecahkan hingga sekarang.

      Dalam tahun berikutnya mereka meraih prestasi yang nyaris mendekati kemenangan domestik dalam sejarah klub, dengan menjadi runner-up Coppa Italia setelah kalah 1-0 di final melawan Vado.

      Klub menghabiskan mayoritas musim 1930 dan 1940 mereka di Serie B, namun mereka nyaris menyabet gelar scudetto Serie A pada 1954/55 ketika mereka akhirnya kalah bersaing dengan Milan.

      Akan tetapi, dalam tahun-tahun berikutnya mereka semakin melorot di Serie B hingga terdegrdasi ke Serie C pada 1963/64, dimana mereka tetap berada di divisi ke tiga liga Italia hingga pada 1976 mereka kembali ke Serie B dan ke Serie A pada tahun berikutnya.

      Pada tahun 1983, Udinese melakukan transfer monumental ketika mereka berhasil merekrut pemain asal Brazil, Zico, yang saat itu merupakan pemain dengan kemampuan paling hebat di dunia.

      Namun satu gelandang legendaris tentu saja tidak cukup untuk membawa kesuksesan, dan tim berada dalam kondisi naik turun antar divisi hingga mereka berhasil kembali ke Serie A pada musim 1995/96, dan terus berada di sana hingga saat ini.

      Pada musim tersebut, mereka berhasil mengamankan posisi di kualifikasi Piala UEFA dibawah asuhan Alberto Zaccheroni, dan musim berikutnya mereka menempati posisi tiga di klasemen akhir setelah Inter di posisi dua dan Juventus sebaga juara, tak lupa berkat sumbangsih 27 gol dari Oliver Bierhoff.

      Pada tahun 2000, Udinese meraih trofi utama pertama mereka saat menjuarai Piala Intertoto. Mereka pun berhak unuk melaju ke kompetisi tertinggi Eropa, Liga Champions, untuk pertama kalinya di musim 2004/05, namun gagal untuk melaju ke fase knock-out setelah tidak mampu lolos dari grup berat yang terdiri dari Barcelona, Werder Bremendan Panathinaikos.

      Walaupun musim ini mereka sedikit diguncang dengan ditinggalkan oleh beberapa pemain pentingnya, namun satu orang yang secara konsisten terus-menerus menjadi pencetak gol mereka adalah pahlawan klub mereka, Antonio Di Natale, yang menjadi pencetak gol terbanyak Serie A selama dua musim berturut-turut yaitu pada 2010 dan 2011.

      Musim 2013/14 Udinese hanya menempati posisi 13 dengan sekali lagi Di Natale menjadi pencetak gol terbanyak klub, mengakhiri musim dengan lebih dari 15 gol dalam lima tahun beruntun.

       

      Stadion

      Udinese menjalani laga kandang mereka di Stadion Friuli, stadion dengan kapasitas terbesar ke tujuh di Italia.

      Stadion Friuli biasanya dapat menampung sebanyak 41,652 penonton, namun jumlah tersebut dikurangi hingga hanya 12,432 penonton karena adanya renovasi. Stadion yang baru seluruhnya nanti akan ditutupi atap, sementara lengkungan di tribun tengah akan tetap diabadikan diluar pemugaran besar-besaran lainnya untuk tetap menjaga estetika yang lebih modern.

      Stadion Friuli dibangun untuk menggantukan stadion klub sebelumnya, Stadio Moretti, sesuai dengan keinginan walikota Udine, Angelo Candolini, yang menginginkan tim kota mereka memiliki kandang yang modern. Pembukaan Stadion Friuli ditandai dengan laga Udinese melawan Seregno pada 26 September 1976 di Serie C.

      Pada tahun 1984, Friuli menjadi stadion pertama di Eropa yang memiliki layar TV raksasa, yang kembudian dibaptis dengan nama ‘The Cosmo’.

      Pada Maret tahun 1989, sebuah laga testimonial diselenggarakan untuk mantan pemain Udinese dan legenda Brazil Zico, yang pensiun dari sepakbola internasional, yang mempertemukan tim nasional Brazil vs tim Rest Of The World (yang berisikan pemain-pemain terbaik saat itu) di Stadion Friuli.

      Selain untuk sepakbola, stadion ini juga digunakan untuk laga rugbi, konser, dan pertemuan tahunan dari Jehovah’s Witnesses.

      Tim Saat Ini

      Pemain The Zebrette yang paling ditakuti oleh barisan pertahanan lawan mungkin adalah kapten mereka Antonio Di Natale, yang saat ini menjadi figur legendaris setelah satu dekade membela Udinese. Pemain berusia 36 tahun ini sudah mengemas enam gol pada musim ini, setelah dua golnya di laga pertama Udinese melawan Empoli, menambah pundi empat gol yang terlebih dahulu dikemasnya saat membantai Ternana 5-1 di Coppa Italia. Di Natale saat ini merupakan pencetak gol terbanyak untuk Udinese sepanjang masa dengan 195 gol.

      Penyerang lainnya yang mampu memberikan teror kepada barisan pertahanan lawan adalah Luis Muriel, yang terus memberikan warna di Serie A.

      Another forward capable of terrorising defences is Luis Muriel, who continues to make waves in Serie A. Mampu bermain di sisi kanan dan kiri serta dianugerahi kecepatan yang layak ditakuti, pemain asal Kolombia ini mencetak empat gol dari 24 penampilannya untuk Udinese musim lalu. Pemain berusia 23 tahun ini juga mampu menempati posisi sebagai gelandang serang dan sering dibandingkan dengan penyerang legendaris Brazil Ronaldo berkat gaya permainannya.

      Allan, adalah gelandang mematikan yang bergabung dengan klub pada musim panas 2012. Pemain asal Brazil tersebut menjadi pilihan utama tim sejak saat itu, menjalani 70 penampilan bersama Zebrette dengan melakukan tackle terbanyak di Serie A (136) sepanjang musim 2013/14.

      Gelandang serang Emmanuel Badu telah menahbiskan dirinya sebagai pemain kunci Udinese di lapangan tengah. Pemain asal Ghana ini, yang mewakili negaranya pada Piala Dunia 2014 kemarin, menjalani musim terbaiknya di tim asal Friuli ini tahun lalu, dengan mencetak lima gol.

       

      Aktivitas Transfer

      Kiper asal Yunani Orestis Karnezis kembali dari masa peminjamannya selama satu musim di Granada, dimana Ia menjadi man-of-the-match saat Granada secara mengejutkan mengalahkan raksasa Catalan, Barcelona 1-0 musim lalu. Ia pun ditunjuk sebagai pilihan pertama Andrea Stramaccioni di bawah mistar gawang saat laga pertama Udinese di Serie A musim ini yang berakhir dengan kemenangan tanpa kebobolan atas Empoli.

      Di barisan pertahanan, bek kanan asal Paraguay Ivan Piris tiba dari Deportivo Maldonado dengan status pemain pinjaman selama satu musim. Pemain berusia 24 tahun ini sebelumnya juga telah  bermain di Serie A untuk AS Roma di musim 2012/13 dimana Ia tampil sebanyak 24 kali dan juga masuk dalam skuad tim nasional Paraguay yang menjadi runner-up Copa America 2011.

      Gelandang serba bisa Panagiotis Kone bergabung dengan Udinese membawa segudang pengalaman bermain di Serie A. Setelah bermain dengan Brescia dan Bologna selama empat musimnya di Italia, pemain berusia 27 tahun ini juga menjadi pemain penting dari tim nasional Yunani yang lolos putaran ke dua Piala Dunia 2014 di Brazil.

      Albert Riera, yang dikontrak Zebrette melalui perjanjian pra-kontrak pada Maret 2012 namun kemudian dipinjamkan ke Watford, tiba di Udinese dengan pengalaman cukup dari Eropa. Pemain sayap yang fleksibel ini (bisa bermain di sayap kiri maupun kanan) telah merasakan pengalaman di Spanyol, Inggris dan Turki, dimana Ia memenangkan Super League Turki tiga kali selama tiga musimnya bersama Galatasaray.

      Udinese juga merekrut penyerang asal Perancis Cyril Thereau, yang mengakhiri empat musimnya bersama Chievo dimana Ia mencetak 26 gol dari lebih 100 penampilan bersama Gialloblu. Penyerang berusia 31 tahun ini memiliki kemampuan duel udara yang baik dan juga baik dalam membantu pertahanan.

      Sebaliknya, Roberto Pereyra telah mengganti seragam hitam dan putih milik Friuli menjadi hitam dan putih milik juara bertahan Italia, Juventus. Pemain Argentina berusia 23 tahun ini tiba di Turin di musim panas tahun ini setelah menjalani tiga musim penuh kesuksesan bersama Udinese.

      Usai meninggalkan klub pada tahun 2013, bek kiri Pablo Amero kembali ke Friuli setelah menjalani musim yang kurang baik bersama Napoli dan West Ham. Pemain berusia 27 tahun ini kemudian dipinjamkan ke Milan selama satu musim.

      Di sisi lain, penyerang berusia 22 tahun Matej Vydra bergabung kembali dengan Watford usai menghabiskan dua musim yang hebat bersama Watford dan West Bromwich Albion.

       

      Pelatih

      Andrea Stramaccioni, yang sempat menangani Inter selama 14 bulan sejak Maret 2012 hingga Mei 2013, mengambil alih kursi kepelatihan dari pelatih yang cukup lama menangani Udinese, Francesco Guidolin.

      Pria berusia 38 tahun ini harus mengisi tempat yang ditinggalkan oleh salah satu pelatih yang dihormati di Italia.

      Sebelum karir kepelatihannya dimulai, Stramaccioni menjadi pelatih tim junior Roma dimana Ia berhasil memenangkan dua gelar nasional: Giovanissimi Nazionali pada 2007 dan Allievi Nazionali pada 2010, sebelum Ia pindah dan membantu Inter Primavera menjuarai turnamen NextGen Series pada 2012.

      Setelah serangkaian hasil buruk yang menyebabkan mantan pelatih Bianconeri Claudio Ranieri dipecat, Stramaccioni kemudian diangkat sebagai pengganti pelatih oleh petinggi Inter dan memimpin Nerazzurri ke posisi 6 di klasemen akhir musim tersebut.

      Awal musim 2012/13 kemudian Ia ditunjuk sebagai pelatih utama Nerazzurri namun tim yang berbasis di Milan tersebut harus menjalani musim yang sulit, dengan berakhir di posisi 9 pada akhir musim. Kesuksesan pribadi Stramaccioni yang paling diingat adalah saat Ia memimpin Inter mengalahkan Juventus 3-1 di Juventus Stadium dan mengakhiri rentetan 49 laga tak terkalahkan Bianconeri harus berakhir.

      Di akhir musim Stramaccioni kemudian digantikan oleh Walter Mazzari, dan semenjak tidak menjadi pelatih Ia rutin menjadi narasumber di RAI Sport saat Piala Konfederasi dan Piala Dunia di Brazil.

      Hasil akhir yang mengecewakan bagi Udinese, berakhir di posisi 13 musim lalu, tiba setelah Guidolin sukses mengamankan tempat di kualifikasi Eropa. Stramaccioni akan berharap bahwa penyegaran yang dibawanya  dapat membawa keberuntungan bagi Udinese di musim ini.

       

      Share with:
      • 1
      • 3
      • 2
      Information on the use of cookies
      This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
      If you want to know more about our cookie policy click here.
      By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
      OK