19.10.2015 19:30 - in: Liga Champions S

    Gladbach dalam tinjauan

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Empat kemenangan beruntun di Bundesliga menjadi modal Borussia Monchengladbach bertandang ke Juventus Stadium dengan semangat tinggi. Juventus.com membahas profil sejarah, manajer dan performa mutakhir The Foals (julukan Gladbach).

    Borussia Monchengladbach mungkin bukanlah nama yang populer bagi para fans yang lebih muda sebab tim asuhan Andre Schubert ini melakukan debutnya di Liga Champions musim ini, namun mereka yang pernah menyaksikan langsung sepakbola Jerman tahun 1970-an tentu kenal.

    Ini adalah cerita tentang kejayaan di masa lalu, kebangkitan di masa kini dan awal yang baru. Berikut adalah segala yang patut diketahui mengenai lawan Bianconeri berikutnya di Grup D.

    SEJARAH

    Didirikan pada tahun 1900, tim yang finis di peringkat ketiga di Bundesliga musim lalu ini baru tampil di kasta tertinggi Liga Jerman untuk pertama kalinya pada tahun 1965 dan itulah masa dimana Gladbach mencapai prestasi tertinggi dalam sejarahnya.

    Bermain dengan gaya yang memukau dengan dimotori oleh talenta-talenta sekelas Jupp Heynckes dan Gunter Netzer, Monchengladbach yang tak diunggulkan meraih tempat ketiga di liga secara beruntun pada 1968 dan 1969.

    Itu belum yang terbaik dari The Foals. Terkenal karena kepercayaan mereka kepada pemain-pemain muda, klub ini mengangkat trofi liga pertama dan kedua mereka pada tahun 1970 dan 1971, menjadi satu-satunya klub yang sanggup mempertahankan trofi sampai saat itu.

    Namun empat tahun kemudian, di bawah kepemimpinan pelatih legendaris Udo Lattek, Gladbach tampil lebih baik untuk memecahkan rekor mereka sendiri, menjuarai Bundesliga tiga kali secara beruntun antara tahun 1975 dan 1977.

    Gladbach menyingkirkan Juventus pada Piala Eropa 1975/1976 dengan skor agregat 4-2

    Mendominasi kancah domestik, Gladbach juga mengagumkan di kompetisi benua biru, mengangkat trofi Cup Winners Cup dalam dua kesempatan pada tahun 1973 dan 1975 sebelum kemudian mencapai final Piala Eropa pada 1077 dimana mereka kalah 3-1 dari Liverpool.

    Dalam delapan tahun masa jaya itu, Berti Vogts dan kawan-kawan tampil di lima babak final kompetisi Eropa, menjuarai dua dan kalah tiga di antaranya.

    Tahun-tahun buruk pun datang sampai kedatangan pelatih yang baru meninggalkan klub Lucien Favre dimana The Foals mulai menempatkan diri mereka sebagai salah satu kekuatan kunci sepakbola Jerman.

    Tiba di pergantian tahun 2011 saat klub berada di zona bawah, Favre membawa Gladbach mengamankan diri mereka di divisi utama melalui laga play-off degradasi.

    Bermodalkan musim pertamanya yang terbilang sukses, mantan pelatih Hertha Berlin itu membawa timnya menduduki peringkat keempat di musim 2011/12 dan kemudian dengan gemilang membawa The Foals ke zona Liga Champions untuk pertama kalinya di musim lalu.

    Namun lima kekalahan dalam lima laga di awal musim baru ini membuat pria Swiss angkat kaki. Ia dianggap sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah mutakhir The Foals yang mengundurkan diri. Ia pun menyerahkan jabatannya kepada pelatih tim U-23 klub ini, Andre Schubert.

    PELATIH

    Kepergian Favre memberikan kesempatan tak terduga bagi Schubert yang berusia 44 tahun itu.

    Dengan pengalaman memadai di lapangan latihan di berbagai level dalam asosiasi sepakbola Jerman, pelatih interim Gladbach itu memulai karir kepelatihannya bersama SC Paderborn, membawanya naik ke divisi kedua liga Jerman setelah sebelumnya melatih skuat cadangan tim tersebut.

    Karir di level yang sama pun menyusul bersama St. Pauli sebelum ahli taktik tim nasional Jerman U-15 itu tiba di Borussia Park musim panas tahun ini untuk membina pemain-pemain muda Gladbach dan Schubert tentu tak menyangka ia mengawali karirnya dengan empat kemenangan beruntun di Bundesliga untuk mengangkat peringkat mereka dari tempat terbawah ke pertengahan klasemen.

    STADION

    Dengan kapasitas maksimum 59.724 yang disempitkan menkadi 46.279 untuk laga-laga di kancah Eropa, Borussia Park adalah salah satu di antara sekian banyak stadion modern di Jerman, stadion yang khusus dibangun untuk sepakbola.

    Diresmikan pada tahun 2004 dan menggantikan stadion lama Bokelbergstadion, kandang baru Gladbach yang impresif dan beratmosfir tinggi ini menyesuaikan diri dengan masa lalu gemilang dan masa depan klub yang menjanjikan.

    Berlokasi di Hennes Weisweiler Allee, dinamai berdasarkan nama manajer ikonik The Foals di pertengahan 1960-an dan 1970-an, stadion ini juga menjadi kandang laga-laga tim muda klub ini dimana murid-murid mudanya belajar dan hidup.

    Meski stadion ini ditata untuk Piala Dunia 2006 lalu, Borussia Park juga menjadi tuan rumah tiga laga Piala Dunia Wanita tahun 2011, termasuk saat Amerika Serikat menang 3-1 atas Perancis di semi-final.

    BAGAIMANA KIRA-KIRA PERMAINAN MEREKA RABU NANTI?

    Meskipun kalah dalam dua laga pembuka di Liga Champions Grup D melawan Sevilla (3-0) dan Manchester City (2-1), tim yang akan bertamu ke Juventus Stadium Rabu malam ini memasuki Matchday 3 sebagai tim Eropa yang performanya sedang bagus-bagusnya, meraih 12 poin maksimal dari empat laga mereka di liga.

    Setelah hanya mencetak dua gol dalam lima laga pembuka Bundesliga, sejak duduknya Schubert Gladbach bangkit dan menemukan kembali sentuhan golnya, mencetak 15 gol di semua kompetisi.

    Tetap dengan formasi 4-4-2 ala Favre, Schubert memolesnya dengan lebih baik, menunjuk pemain tim nasional Swiss yang berpengaruh Granit Xhaka sebagai kapten setelah absennya Martin Stranzi yang cedera. Schubert juga memposisikan pemain 19 tahun Mahmoud Dahoud sebagai gelandang tengah. Kedua pemain itu telah membayar kepercayaannya, masing-masing mencetak dua gol di pekan-pekan terakhir ini.

    Gelandang Xhaka (kiri) beraksi untuk negaranya dalam Piala Dunia tahun lalu di Brazil

    Di lini depan, pergantian pelatih juga membuat striker Brazil Raffael kembali turun beraksi yang telah mencetak tiga gol dalam tiga laga domestik sejak September. Ia didampingi oleh mitra penyerangnya Lars Stindl.

    Meski The Foals cenderung bertahan dalam banyak kesempatan, kecepatan pemain sayap Ibrahima Traore dan Fabian Johnson, ditambah dengan performa enerjik Xhaka dan Dahoud, mengharuskan Bianconeri untuk waspada saat menyerang dan harus tampil sangat baik di lini serang untuk meraih kemenangan ketiga mereka secara beruntun di Grup D.

    Sebagaimana yang ditunjukkan Gladbach di Bundesliga, posisi mereka di klasemen Bundesliga dan Liga Champions bisa jadi hanya palsu.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK