14.03.2016 18:00 - in: Liga Champions S

    Kisah laga-laga dua putaran...

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Apakah hasil imbang di putaran pertama di kandang berarti kesempatan untuk lolos sudah hilang? Melongok kembali sejarah Juve di Eropa tidak menunjukkannya...

    Sangat berguna untuk mengetahui statistik ini sebelum menyadari betapa sangat pentingnya kebangkitan babak kedua Bianconeri di Juventus Stadium tiga pekan lalu dan juga peluang mereka melaju ke babak perempat-final dengan menyingkirkan Bayern Munich pada Rabu malam: 

    “Hanya dua kali – kekalahan AFC Ajax atas Panathinaikos FC di semi-final 1995/96 dan kemenangan FC Internazionale Milano melawan Bayern di babak 16 besar 2010/11 – sebuah tim lolos ke babak selanjutnya setelah kekalahan di putaran pertama.”

    Saat Arjen Robben menusuk ke area penalti tuan rumah dan melepaskan tembakan melengkung melewati Gianluigi Buffon untuk memberikan keunggulan dua gol dengan 35 menit laga tersisa, Juve menghadapi prospek untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan dua tim di sejarah Liga Champions sebelumnya.

    Bukan hanya gol-gol Paulo Dybala dan Stefano Sturaro membuat Juve menyamakan kedudukan menjadi satu dari 45 menit yang mendebarkan dan membuat jantung berhenti berdetak di sepanjng musim ini, mereka juga mencatatkan skenario yang memperlihatkan Nyonya Tua melaju ke babak selanjutnya dari kompetisi ini dalam enam dari tujuh percobaan terakhir mereka.

    Ketika Martin Atkinson meniupkan peluit akhir di Turin pada laga imbang 2-2 bulan lalu, fakta yang menonjol adalah ini: dari tujuh pertandingan di kompetisi UEFA yang diikuti Juventus dimana mereka bermain imbang di putaran pertama, Bianconeri berhasil meraih kemenangan di putaran kedua sebanyak enam kesempatan, menyingkirkan gol tandang lawan di lima kesempatan tersebut.

    Yang lebih lagi, enam kesuksesan Juve tersebut semuanya diikuti satu sama lain sejak hasil imbang 1-1 di Turin dan kekalahan 2-1 di Wolverhampton melawan Wolves menyingkirkan mereka di UEFA Cup pada babak perempat-final pada Maret 1972.

    Dari mengeliminasi Ujpest Dozsa hingga Fiorentina melalui Borussia Dortmund dan Barcelona, inilah mengapa pendukung Juventus memiliki alasan yang baik untuk meyakini bahwa sejarah akan berpihak pada mereka saat laga pada Rabu malam nanti.

    1973: UJPEST DOZSA 2 (2) – (2) 2 JUVENTUS
    Perempat Final Piala Eropa 1972/72

    Satu-satunya dari enam pertandingan yang menghasilkan skor 0-0 pada putaran pertama, Juventus asuhan Cestmir Vycpalek melakukan perjalanan ke Budapest guna menghadapai juara Hungaria Ujpest Dozsa dalam pertarungan yang memerlukan penampilan sempurna demi menyingkirkan lawan yang begitu bersemangat di depan khalayak suporter tuan rumah.

    Dalam suasana stadion yang tidak biasa dan di atas lapangan yang kurang baik, segalanya berawal sangat buruk bagi Bianconeri sebab tembakan mendatar Ferenc Bene dan tendangan setengah voli Andras Toth membawa Ujpest unggul dua gol padahal laga baru berjalan 13 menit.

    Akan tetapi Juve segera memperkecil ketertinggalan lima seperempat jam kemudian, sundulan jitu Jose Alfatini setelah menerima umpan silang cantik Pietro Anastasi membuat selisih agregat menjadi ketat saat memasuki masa jeda paruh waktu.

    Sampul majalah Hurra Juventus edisi April 1973 menyerukan kebangkitan Bianconeri di Hungaria.

    Dan, saat malam semakin larut di Budapest tuan rumah yang mencetak gol penentu tak lama setelah babak kedua dimulai saat Anastasi mencetak gol dengan memanfaatkan kesalahan kiper Antal Szentmihalyi untuk memudahkan Pietro melepas sebuah sundulan meluncur ke pojok bawah gawang dan mengantarkan Bianconeri ke babak semi-final dengan keunggulan gol tandang.

    1995: B. DORTMUND 1 (3) – (4) 2 JUVENTUS
    Semi Final Piala UEFA 1994/95

    Kemenangan agregat 4-3 Juventus atas Borussia Dortmund pada semi final Piala UEFA 1994/95 mungkin dapat menjadi contoh sempurna bagi misi Kamis dini hari (17/3 wib) nanti di Munich: Hasil imbang 2-2 di putaran pertama melawan sebuah tim Jerman dengan sebuah rekor terhormat dalam sepakbola Eropa, dilanjutkan dengan kemenangan kandang 2-1 yang indah di putaran kedua.

    Mendapat harapan dari gol penyeimbang Jurgen Kohlen di penghujung waktu dalam sebuah laga putaran pertama di kandang di Milan, Bianconeri asuhan Marcelo Lippi menyempurnakan tugas dua pekan kemudian di Westfalenstadion yang penuh sesak dalam pertempuran epik keempat dari tujuh pertemuan di tahun 1990-an dengan Die Borussen.

    Karena seluruh tiga gol menentukan dalam dua putaran pertandingan tersebut lahir di setengah jam pembuka, seperti halnya di putaran pertama tim tamu yang memecah kebuntuan dan dengan cara yang tak terduga, Sergio Porrini melesatkan sebuah sundulan cantik ke tiang dekat dari tembakan bebas Roberto Baggio.

    Namun keunggulan aggregat dan keunggulan pada laga tersebut buat Sang Nyonya Tua hanya bertahan beberapa saat saja sebab sepakan bebas mendatar Julio Cesar yang menyelinap melewati pagar betis dan Angelo Peruzzi membawa tim Jerman kembali menyeimbangkan keadaan.

    Meski masih ada keberuntungan menyertai upaya Cesar tersebut, tak ada yang menghalangi terciptanya gol penentu kemenangan Baggio 20 menit kemudian.

    Dari sudut sempit, 23 meter dari gawang, Roberto Baggio maju dan melepaskan sebuah tendangan melengkung ke dalam jala gawang Dortmund yang sempat menyentuh mistar untuk mencetak gol untuk menghantarkan Juve ke final Piala UEFA keenam dalam waktu sembilan tahun dimana pada musim ini mereka akhirnya gagal meraih gelar juara setelah takluk dari Parma.

    1998: KIEV 1 (2) – (5) 4 JUVENTUS
    Perempat Final Liga Champions Eropa 1997/98

    Hanya sedikit tim yang bertandang ke Ukraina dan kembali dengan hasil positif, terlepas dari sebuah kemenangan meyakinkan 4-1 di ajang Liga Champions. Akan tetapi, itulah yang tepatnya Juventus lakukan pada perempat final musim 1997/98 dalam perjalanan meraih gelar sebagai runners-up.

    Setelah Dynamo Kiev menahan imbang 1-1 di Stadio Delle Alpi, kedua tim saling berhadapan di ibukota Ukraina dua pekan kemudian dan tim tuan rumah diunggulkan mencapai semi final.

    Diperkuat para pemain seperti Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero dan Filippo Inzaghi – yang mengakhiri pertemuan dengan meraih empat gol atas namanya sendiri – Bianconeri sadar saat itu bahwa mereka memiliki kekuatan serangan untuk menaklukkan diapapun di ajang Eropa.

    Kualitas serangan semacam itu ditampilkan pada setengah jam pembuka ketika trio pemain itu bekerjasama mengawali gol pertama Inzaghi dari hat-trick luar biasanya ketika itu, sang pria Italia mencetak gol setelah pergerakan Zidane yang membuka pertahanan tuan rumah.

    Namun terciptanya gol kedua dan ketiga tidaklah mulus. Kedua gol tersebut lahir melalui sundulan dari sepak pojok Zidane dan Del Piero dan kemudian Alessandro akhirnya menjadi pencetak gol terakhir dengan tendangan setengah voli beberapa saat sebelum laga usai untuk menutup pertandingan tandang menakjubkan bagi para suporter tandang Bianconeri.

    2003: BARCELONA 1 (2) – (3) 3 JUVENTUS
    2003: BARCELONA 1 (2) – (3) 3 JUVENTUS

    Meski tidak seindah saat bangkit dan menang agregat 4-3 atas Real Madrid di semi final, aksi heroik Bianconeri di ronde sebelumnya melawan Barcelona masih pantas disebut sebagai salah satu kemenangan tandang klub Turin ini di Liga Champions.

    Tak mengherankan, kejadian tersebut mungkin lebih dikenang karena gol pembuka cantik Pavel Nedved tak lama setelah jeda, sebuah gol yang secara teknis brilian dan sangat krusial bagi nasib Bianconeri pada pertemuan itu.

    Menerima bola dari Edgar Davids tak jauh dari sisi kiri gawang, pemain Ceko itu menerobos masuk dengan aksi khasnya, meloloskan diri dari dua tekel yang menghadang dan tenang melepas sebuah tembakan yang masuk ke gawang demi membalas gol tandang Javier Saviola yang dicetak saat di Turin.

    Sebuah gol penyeimbang Xavi dan kartu merah Davids nampaknya memberi keuntungan kepada Barca, hanya saja Marcelo Zalayeta kemudian mencetak gol dari umpan silang sempurna Alessandro Birindelli dari sayap kanan di waktu tambahan dan menghantarkan 10 pemain Juve ke babak semifinal.

    2004: DJURGARDENS 1 (2) – (5) 4 JUVENTUS
    Fase Kualifikasi Ketiga Liga Champions Eropa 2004/05

    Berada di posisi untuk menulis sejarah di pertandingan-pertandingan menentukan dan bahu-membahu bersama para pemain terbaik dunia, anda harus pastikan bahwa anda memiliki ketenangan dan konsistensi terlebih dahulu dalam bermain.

    Hasil imbang mengejutkan 2-2 di Turin melawan tim Swedia yang tak diunggulkan Djurgarden di putaran pertama babak kualifikasi ketiga pada awal Agustus 2004 mengancam Juve agar tersingkir dari Liga Champions bahkan sebelum dimulai.

    Namun seperti yang diharapkan, hasil imbang dengan empat gol tercipta ternyata hanya menjadi kesalahan kecil anak asuh fabio Capello yang membalikkan keadaan dengan cara yang gemilang yakni menang 4-1 di Swedia.

    Papan skor memperlihatkan mereka yang menorehkan sejarah Juve pada malam itu adalah: Del Piero 10’, Trezeguet 33’, Nedved 53’, Trezeguet 86’.

    2014: FIORENTINA 0 (1) – (2) 1 JUVENTUS
    Perempat Final Europa League 2013/14

    Kebangkitan Juve paling terbaru sebenarnya hadir sanga dekat dengan kandang sendiri, yakni di Stadio Artemio Franchi di Florence.

    Gol Mario Gomez 11 menit sebelum waktu usai di Juventus Stadium memastikan Bianconeri harus melakukan segalanya melawan Fiorentina di putaran kedua dan ketika laga yang digelar dua pekan berikutnya itu mendekati akhir seluruh dunia menyaksikan bahwa La Viola yang akan lolos dan menghadapi Benfica di semi final.

    Momen itu datang ketika Andrea Pirlo maju dan melakukan sesuatu yang sangat luar biasa.

    Bukanlah yang pertama kalinya dalam sejarah tim kita.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK