25.04.2016 17:00 - in: Serie A S

    Para Pembuat Sejarah

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Jika perjalanan luar biasa musim ini ke lima gelar Scudetto berturut-turut telah mengajarkan kita apapun, yaitu ini adalah permainan tim. Berikut ucapan terima kasih kami kepada tiap anggota skuat Juve
    #1: GIANLUIGI BUFFON ☆

    Scudetto kesembilan bagi sang Numero Uno yang sulit digantikan dan pertama dari tim Magnificent Eight (delapan pemain yang merasakan seluruh lima Scudetto beruntun).

    Keinginan untuk menang yang tak pernah putus, konsistensi dalam memecahkan rekor, kepempinan tanpa henti di ruang ganti, penyelamatan demi penyelamatan dengan kualitas yang tidak ada tandingannya, apa lagi yang bisa dikatakan tentang Gianluigi Buffon yang belum pernah dikatakan orang lain?

    Pikirkanlah, ada berapa banyak pemain yang dapat memimpin timnya dalam meraih empat gelar Scudetto beruntun dan meletakkan dasar bagi gelar kelima, tidak diragukan lagi merupakan terbaik di antara semuanya, dengan tidak kebobolan dalam masa yang sama dengan waktu tayang seluruh saga Star Wars? 

    Ada berapa banyak kiper yang dapat melakukan penyelamatan gemilang di kemenangan vital 2-1 atas Milan di bulan April di San Siro atau penyelamatan-penyelamatan penting di awal musim yang membuatnya meraih pemain terbaik bulan September ketika rekan-rekan satu timnya sangat membutuhkannya?

    Ada berapa banyak pemain yang bersedia bertahan bersama timnya di situasi terendah, berdiri sebagai pilar dari kebangkitan kembali klub dan kemudian menemukan kalimat yang tepat untuk mengubah kecemasan di awal musim ini menjadi sebuah sejarah?

    Berapa pemain yang dapat bertahan di level penampilan yang sama selama 20 tahun dan tetap tidak menunjukkan tanda-tanda memudar di usia 38?

    Apa lagi? Berapa banyak yang dapat mendiskusikan hal terbaik dari tugasnya dan bagaimana cara menipu kiper dalam detail yang luar biasa di hadapan para penggemar berusia lima-enam tahun?

    Jawabannya? Hanya 1. Terima kasih banyak, Gigi.

    #25: NORBERTO MURARA NETO

    Norberto Murara Neto tampaknya memberikan bukti yang paling penting bahwa setiap skuat pemenang gelar harus memiliki kekuatan dan kedalaman berlebih di tiap posisi di lapangan.

    Meskipun terbatas tampil di satu laga liga saat melawan Frosinone di September, Neto telah manjadi pemain yang selalu menjaga gawang Bianconeri di Coppa Italia hingga final dan, walau cedera, masih memiliki kemungkinan untuk menjadi pemain di antara tiang gawang Juve di Stadion Olimpico pada bulan Mei.

    Jangan terkejut jika ini adalah Scudetto pertama dari banyak kesuksesan lainnya bagi pria Brazil yang tangkas, atletis dan ramah ini.

    #34: RUBINHO

    Rubens Fernando Moedim, umumnya dikenal dengan Rubinho, akan menerima medali pemenang Scudetto untuk keempat kalinya sejak tiba di klub dari Palermo pada musim panas 2012, hanya kurang satu untuk masuk ke dalam Magnificent Eight

    Kesuksesan terbaru ini memberikan pria Brazil ini catatan unik dengan memenangkan lebih banyak gelar liga dari pada jumlah penampilannya di Serie A bagi Bianconeri. Jimat keberuntungan!

    #38: EMIL AUDERO

    Memiliki masa depan cerah dan telah berlatih dengan contoh terbaik adalah hal yang tidak bisa ditolak oleh kiper muda berdarah Indonesia ini. Karena dengan Gigi Buffon ia dapat mencuri beberapa rahasia menjadi yang terbaik dan dari Neto serta Rubinho ia dapat belajar mengenai seni kesabaran. Dan bagi seorang kiper, itu adalah pelajaran yang tidak dapat dianggap remeh.

    #3: GIORGIO CHIELLINI ☆

    Mungkin satu-satunya yang terasa kurang dari kebangkitan bersejarah Juventus menuju garis akhir di beberapa bulan terakhir ini adalah absennya pejuang yang lama mengabdi dan bintang di barisan pertahanan Bianconeri Giorgio Chiellini.

    Meskipun membuat penampilan yang lebih sedikit dari rekan sejatinya Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli, trio yang akan segera menjadi legenda ini juga mungkin tidak akan merayakan kesuksesan sama seperti ini jika tanpa kontribusi konsisten yang krusial dari C dalam BBC ini.

    Sebagai bagian dari trio tersebut ataupun tidak, Chiellini masih dihargai sebagai bek terbaik di sepak bola dan meskipun tahun ini ia tidak banyak tampil seperti di empat kemenangan Scudetto sebelumnya, bek tengah yang tak kenal ampun ini menujukkan dalam lima bulan pertamanya musim ini untuk menegaskan status tersebut.

    Jika ada hal lain, respon yang di luar perkiraan dari para penggemar pada ulang tahun ke-31 Giorgio di bulan Agustus cukup memberikan indikasi mengenai popularitasnya di antara Bianconeri di mana saja.

    Telah menjadi anggota dari klub 300 (daftar pemain Juventus yang telah tampil sebanyak 300 laga minimal) sejak 2014, kesuksesan lima kali beruntun bagi Chiellini ini semakin menekankan posisinya sebagai legenda Juventus.

    #15: ANDREA BARZAGLI ☆

    Sekitar pukul 15:31 CEST (20:31 WIB) pada Minggu 17 April, anda mungkin menyadari bahwa animasi ini muncul di lini masa Twitter anda:

    Relevan dengan poin manapun dari musim ini namun terutama setelah sapuan bersih di garis gawang dari Andrea Barzagli untuk menjaga Juventus tetap unggul saat melawan Palermo, intervensi terkini dari ‘The Wall’ ini merupakan bukti bahwa, seperti rekannya Buffon, ia telah menikmati musim lainnya yang mengalahkan-usia.

    Dengan kembalinya Andrea ke puncak penampilan terbaik saat Juventus merangkak bangkit memasuki bulan Januari, sudah tidak mengejutkan bahwa catatan pemecah rekor dari laga tanpa kebobolan beruntun mengikuti sebagaimana ‘The Wall’ menciptakan formasi yang sulit ditembus di sepak bola Eropa dengan kapten Buffon di belakangnya dan Leonardo Bonucci di sisinya.

    Anggota ketiga dari Magnificent Eight dan tampaknya salah satu dari pahlawan yang paling jarang dinyanyikan. 

    #19: LEONARDO BONUCCI ☆

    Musim yang dimulai dengan pembaruan kontrak berakhir dengan Scudetto kelima dalam lima tahun bagi Leonardo Bonucci dan dalam aktivitas bursa transfer yang sibuk di bulan Juli dan Agustus, siapa yang menyangka bahwa perpanjangan kontrak Leo untuk bertahan lebih lama di Turin itu menjadi salah satu pergerakan terpenting di musim panas itu?

    Bagaimanapun anda melihatnya, tidak dapat diragukan lagi bahwa performa Bonucci musim ini lebih dari layak untuk mendapatkan pujian semacam itu. Kerap mengenakan ban kapten saat absennya Buffon dan wakil kapten lainnya, nomor 19 kami ini memiliki kesabaran, ketenangan dan konsentrasi yang tidak memerlukan usaha lebih di lini belakang telah menegaskan reputasinya sebagai salah satu pemain belakang paling lengkap di dunia sepak bola.

    Namun ini bukan hanya tugas menjaga pertahanan yang dikuasai Leo musim ini.

    Sundulan keras melawan Verona di laga pertama usai jeda musim dingin dan penampilan yang layak memperoleh Oscar di Juventus Stadium pada kunjungan Inter di akhir Februari menunjukkan bahwa ia juga memiliki kegarangan di kotak penalti lawan.

    Semua itu, bahkan sebelum mempertimbangkan bakat lain yang belum disaingi dalam membangun permainan dari lini belakang: sebagai tambahan terakhir, tidak ada Bianconero lainnya yang sukses menyelesaikan operan sebanyak Bonucci.

    2011/12, 2012/13, 2013/14, 2014/15, 2015/16…2019/20?

    #24: DANIELE RUGANI

    Direkrut dari Empoli pada musim panas ini untuk melanjutkan warisan pertahanan lebih jauh ke masa depan, absennya rekan lini belakang lain di berbagai periode musim ini menjadi pemicu majunya Daniele Rugani ke susunan pemain utama dalam perjuangan Scudetto di musim semi. Seperti yang anda mungkin perkirakan, itu adalah tantangan yang dapat dijalani dengan meyakinkan oleh pemain muda yang menjanjikan ini. 

    Setelah menutup 2015 dengan penampilan stabil yang terbatas hanya di ajang Coppa, Dainele tampil penuh sepanjang 90 menit dalam enam kemenangan penting bulan Maret dan April atas Sassuolo, Torino, Empoli – salah satu penampilan terbaiknya dalam seragam Juventus sejauh ini – Milan, Palermo dan Lazio, menujukkan dengan tepat apa yang berada di masa depan bagi Juve.

    Tidak ada yang lebih berkepala dingin di sini saat Bianconeri menutup rentetan kemenangan penting tersebut dan ketenangan dan kesabaran itulah yang pasti akan menjadikan pemain internasional Italia U21 tersebut bintang di Juventus Stadium untuk tahun-tahun selanjutnya. 

    #4: MARTIN CACERES ☆

    Terbatas hanya 449 menit beraksi sejauh musim ini, penggemar dan pemain lainnya akan merasakan kesedihan dengan absennya Martin Caceres karena cedera panjang yang dialaminya pada bulan Oktober dan Februari.

    Kesuksesan Serie A musim ini bagaimanapun juga tetap menjadi gelar kelima beruntun bagi pemaian Uruguay ini bagi Bianconeri yang telah bersama kita sejak bergabung dengan skuat pada Januari 2012, pencapaian memukau bagi pemain yang telah menikmati banyak kesuksesan sepanjang karirnya saat ini.

    Figur populer di ruang ganti, kehadiran Martin untuk menerima medali kemenangannya pada 15 Mei akan menyenangkan hati dari para pendukung di Juventus Stadium. 

    #26: STEPHAN LICHTSTEINER ☆

    Ketika satu pemain memenangkan gelar liga tiap tahunnya sejak kedatangannya di satu klub, itu mengatakan banyak hal mengenai konsistensi, kualitas dan pentingnya ia bagi tim.

    Ketika anda sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali seorang pemain maju hingga mendekati garis akhir dan melepaskan umpan dan kemudian berlari kembali ke belakang untuk membuat intersep krusial di ujung lain lapangan, anda mulai menyadari bahwa anda memiliki seorang yang luar biasa profesional di tim anda.

    Semua hal di atas menggambarkan musim pada umumnya bagi Stephan Lichtsteiner namun kesuksesan Scudetto musim ini mungkin adalah yang termanis bagi bek sayap yang tidak kenal lelah ini.

    Kembali beraksi bersama tim utama hanya satu bulan setelah menjalani operasi jantung dengan gol indah melawan Borussia Monchengladbach, Lichtsteiner memberi penegasan bahwa tidak ada yang bisa menahan seorang pemain terbaik untuk waktu yang lama.

    Memberikan keseimbangan krusial secara ofensif dan defensif di sisi kanan Juventus untuk lima musim bersama, hanya sedikit yang dapat memberikan energi sama banyaknya untuk mencapai prestasi bersejarah ini dari pada Swiss Express. Salut kepada anggota Magnificent Eight nomor enam ini.

    #33: PATRICE EVRA

    “Saya sangat marah. Ketika anda bermain untuk tim ini anda harus percaya bahwa anda dapat memenangkan gelar tiap tahun. Sebaliknya, seperti yang terjadi saat ini, kami justru membuang kesempatan untuk membuat sejarah. Pesan untuk rekan satu tim saya? Mari hormati seragam ini.”

    Patrice Evra 29 Oktober 2015

    Sikap yang ia miliki di dalam dan luar lapangan serta rasa hormat yang ia minta dari rekan-rekannya di ruang ganti, anda tidak akan percaya bahwa Patrice Evra baru berada dua musim di sini.

    Mengakui sebagai pengagum sepak bola Italia, pemain veteran Perancis ini (yang tepat akan berusia 35 tahun di hari yang sama dengan laga terakhir musim ini) dengan tepat segera masuk ke dalam lini belakang Juve tahun lalu dan konsistensi, fokus serta determinasi yang ia tunjukkan telah memastikan bahwa gelar kedua beruntunnya kali ini tidak akan berbeda bagi Patrice.

    Kejujuran sadis Evra usai kekalahan dari Sassuolo di bulan Oktober dan selebrasi penuh kebahagiaan usai sundulan pentingnya di kandang Empoli satu bulan kemudian menunjukkan komitmen “Uncle Pat’s” dalam cara yang tidak dapat dilakukan oleh yang lainnya.

    Merci, Patrice!

    #12: ALEX SANDRO

    Jarang menjadi sorotan, musim hebat dari rekrutan musim panas Alex Sandro dapat dengan mudah terlupakan di luar kebahagiaan dan perayaan gelar dari pemain-pemain yang lebih menyerang.

    “Juve adalah tim besar dengan sejarah hebat dan tentu saja kami harus terus meraih trofi manapun yang bisa dimenangkan. Tiap pemain yang tiba di sini dari manapun tahu bahwa mereka adalah tim juara dan mereka akan berjuang untuk menang di tiap laga.”

    Meskipub begitu, tidak berarti kita harus mengabaikan assist kemenangan bagi rekan sesama Amerika Selatan Juan Cuadrado dan Paulo Dybala di kemenangan krusial musim gugur atas Torino dan Milan atau gol melengkung sempurna yang ia cetak melawan Udinese di bulan Januari.

    Cerita dari musim hebat bek sayap ini dalam hitam dan putih tidak terbatas hanya dari gol-gol dan umpan-umpan, bagaimanapun juga. Tekel tanpa ampun, tidak dapat dihentikan saat menyerang dan umpan-umpan akuratnya di sisi kiri, Alex Sandro dengan segera menjadi bagian kunci dari tim pemenang Scudetto musim ini sambil terus menyesuaikan diri dengan iklim sepak bola Italia.

    Untungnya, musim pertama pemain Brazil ini dalam seragam hitam dan putih akan berakhir dengan hadiah yang layak.

    #16: JUAN CUADRADO

    “GOOOOOOLLLLLLLLLLLLL!!!!! JUVENTUS 2-1 TORINO!!!!!!! JUAN CUADRADO!!! Kehebohan di Juventus Stadium setelah Alex Sandro mengirimkan umpan sempurna di depan gawang untuk didorong masuk oleh pemain Kolombia tersebut dan mengamankan poin untuk Juve! Air mata bagi tim tamu, SUKA CITA di seluruh penjuru lainnya. Penutup yang epik daalam laga yang hampir berakhir imbang. Benar-benar dramatis..”

    Juventus.com 31/10/2015

    Siapapun yang anda tanya di skuat mereka mungkin akan mengatakan penyelesaian Juan tepat di mulut gawang Torino adalah momen menentukan musim ini yang membuka rentetan kemenangan yang impresif dari sang juara Italia dan mereka tidak akan pernah melihat lagi ke belakang sejak kemenangan malam Halloween itu dan seterusnya.

    Penentu kemenangan derby yang krusial itu sendiri sudah mencukupi untuk mempertimbangkan Cuadrado sebagai pahlawan Bianconeri, tapi pemain sayap itu masih memberikan lebih jauh.

    Intervensi penting lainnya melawan Fiorentina, Genoa dan Bayern Munich kemudian mengikuti namun gol terbaik ia simpan hingga akhir: penyelesaian yang meliuk dan super saat melawan Palermo pada kemenangan 4-0  bulan April adalah Cuadrado yang sesungguhnya.

    Bagi seorang pria yang selalu menampakkan senyuman di wajahnya, ia telah memberikan banyak alasan untuk melakukan yang sama kapanpun pemegang nomor 16 ini memasuki lapangan.

    Oh, dan apakah kami sudah mengatakan bahwa ia cukup pandai dalam menari?

    #8: CLAUDIO MARCHISIO ☆

    Sekitar pukul 22.10 CEST pada 19 Agustus 2006, pemuda dengan wajah cerah bangkit dari bangku cadangan di Stadion San Nicola Bari untuk menjalani penampilan pertamanya bersama tim senior untuk klub yang selalu ia impikan dari kecil.

    Kurang dari sepuluh tahun kemudian, pemain asli Turin Claudio Marchisio telah memenangkan lima gelar Scudetto beruntun atas namanya dan masuk menjadi anggota Magnificent Eight kami.

    Bermain sedikit lebih ke belakang dari yang ia lakukan saat berusia 20 tahun dengan kecerdasan posisi dan taktik yang menakjubkan kini namun dengan sentuhan yang sama, kehadiran Claudio di lini tengah Juventus sekali lagi menjadi penghubung dari kesuksesan domestik terbaru klub.

    Adalah bukan kebetulan bahwa hasil-hasil mulai meningkat setelah ia kembali dari cedera di awal musim dan membentuk kerja sama tangguh bersama Paul Pogba dan Sami Khedira yang menjadikan trio lini tengah Bianconeri tersebut menjadi salah satu yang paling seimbang dan mengesankan di Eropa.

    Cedera lutut yang ia alami di laga kandang terakhir kemarin saat melawan Palermo cukup menjadi pukulan bagi para penggemar, kolega dan sesama pemain profesional di mana saja dan sepertinya tidak memberikan dampak buruk dari apa yang telah menjadi musim yang penuh keagungan bagi Pangeran Kecil Juventus ini.

    Satu-satunya hal penting adalah bahwa ia akan berada di sana pada 15 Mei untuk mengangkat trofi yang akan dihiasi pita hitam dan putih untuk kelima kalinya secara berturut-turut, sebuah prestasi yang tentu saja tidak akan terjadi jika tanpa penampilan luar biasa Marchisio.

    Seperti yang diminta oleh kolega lini tengah lainnya Simone Padoin di periode terakhir musim ini, dorongan terakhir melawan Lazio dan Fiorentina dipersembahkan dengan baik untuk Claudio.

    #10: PAUL POGBA

    Empat gelar Scudettp beruntun, rekor terbaik pribadi untuk gol dan assist dalam satu musim di liga, meraih tempat di FIFPro World XI dan UEFA Team of The Year, raja dari tim DAB: bukan 10 bulan yang jelek bagi Paul Labile Pogba dalam kebangkitannya yang terus tidak dapat dihentikan menuju puncak kesuksesan.

    Selalu menarik perhatian baik di dalam maupun di luar lapangan, Pogba akan dapat melihat kembali musim impresif lainnya, musim yang membuatnya mengambil langkah besar usai perginya beberapa nama besar di lini tengah di musim panas dan mengambil tanggung jawab khusus di mesin Juventus.

    Tidak perlu diungkapkan lagi, semua yang telah dilakukan nomor 10 kita musim ini sangatlah spektakuler – termasuk berbagai gaya potongan rambutnya – dan itulah seharusnya bagaimana pemain seperti Paul yang tidak melakukan berbagai hal dengan setengah-setengah.

    Ketika kami harus memilih gol terbaiknya musim ini dalam beberapa pekan lalu, pria Perancis ini tidak diragukan lagi akan memiliki beberapa nominasi dalam daftar, tiga gol yang sangat baik melawan Torino (selalu menjadi rute meyakinkan untuk memperoleh status pahlawan Bianconeri) dan gol dribel meliuk-liuk saat melawan Chievo akan langsung hadir dalam pikiran.

    Tentu, menyoroti catatan pribadi “The Octopus” tanpa disertai dengan gol-golnya akan terasa kurang, dengan assist supernya, trik yang nakal dan aksi-aksi menghipnotis akan memberikan cukup banyak hiburan.

    Terlepas dari kekalahan di kompetisi bola basket, ini adalah musim yang hebat bagi Paul.

    #6: SAMI KHEDIRA

    Momen ketika Sami Khedira duduk di Juventus Stadium untuk konferensi pers perkenalan pada bulan Juli lalu dan menunjukkan kepercayaan diri di depan media dalam bahasa Italia, jelas bahwa kita memiliki seorang profesional sejati di tangan kami.

    Jika itu belum cukup untuk membuat dirinya mendapatkan pendukung baru di tim maka kemudian Ia berhasil mencetak gol pada debutnya bersama tim.

    Satu statistik sederhana sekalipun akan menunjukkan betapa pentingnya Sami Khedira untuk Juventus sejak tiba dari Real Madrid dengan status bebas transfer di musim panas: Bianconeri tak terkalahkan di liga saat dia berada di lapangan, mencatat 18 kemenangan dan satu hasil imbang. Ketika Sami bugar, Sami memulai. Ketika Sami memulai, kita menang!

    Fakta dan statistik hanya bisa menggambarkan begitu banyak yang bisa ditawarkan dari pemain internasional Jerman tersebut untuk tim ini. Selalu tajam dalam penguasaan bola, cerdas dalam bergerak dan kokoh dalam tantangan, dengan sangat cepat penggemar Juventus mengelukan Khedira merupakan hal yang tidak mengejutkan.

    Dengan gol dan assist yang telah dicatatkannya sejauh musim ini, sang juara dunia telah menjadi bintang sejati baik di dalam dan luar lapangan.

    #27: STEFANO STURARO

    Namanya mulai meledak dengan performa hebat di akhir musim di 2014/15, Stefano Sturaro terlahir sebagai pejuang alami dan telah memantapkan posisinya sebagai pemain di skuat utama kali ini dengan menunjukkan gaya bertarung yang lebih khas dan berkomitmen penuh di lini tengah.

    Seorang tokoh sentral terutama pada periode November dan Desember di Serie A termasuk gol pertamanya di liga musim ini saat berkunjung ke Palermo, momen terbaik Sturaro datang dan tak terlupakan saat berlaga di Liga Champions ketika Ia mencetak gol penyama kedudukan melawan Bayern Munich sesaat setelah ia datang dari bangku cadangan.

    Cepat untuk menggapai bola, memiliki sentuhan cekatan yang diperlukan untuk mengubah pertandingan dan selebrasi emosional merupakan segala sesuatu yang dikagumi tentang Stefano dalam hitungan detik.

    Ini adalah gelar Scudetto kedua untuknya dan pasti Ia tidak ingin menjadi Scudetto terakhir yang masuk ke dalam lemari piala timnya.

    #11: HERNANES

    "Saya membaca buku baru-baru ini karya Bruce Lipton (Ahli Biologi Amerika dalam sel induk, yang mengkhususkan diri dalam hubungan antara sel-sel dan semangat) di mana ia mengatakan bahwa setiap sel beradaptasi dengan lingkungannya. Jadi, dalam suasana kemenangan seperti ini, adalah alami dengan cara Anda sendiri untuk berpikir tentang perubahan. Jika Anda suka, sel-sel Anda semuanya menjadi hitam dan putih!"

    Seorang pemain yang pintar, pemain yang bijaksana dengan mata yang tajam untuk memberi umpan, dan selalu datang secara mengejutkan bahwa Anderson Hernanes de Carvalho Viana Lima, pemain yang pendiam dan perseptif di luar lapangan begitu berbeda ketika Ia dengan bola di kakinya. Anda lihat, tidak ada yang membandingkan permainan Juventus dengan saluran sel biologi sebelumnya...

    Namun itu didasarkan pada tekadnya, dorongan dan kekuatan dalam bekerja, Hernanes menampilkan performa terbaiknya musim ini pada bulan Februari saat bermain imbang 2-2 dengan Bayern Munich di Juventus Stadium dan kemenangan 2-0 atas mantan klubnya Inter di liga.

    Beroperasi dalam berbagai peran di lini tengah musim ini, pemain asal Brasil telah menambahkan kedalaman berharga untuk skuad Bianconeri dan tidak ada kekurangan semangat dan ilmu pengetahuan ilmiah!

    #18: MARIO LEMINA

    Gelandang bertahan murni, memiliki tekel tangguh, intersepsi tepat waktu, penyelesaian berkelas, Mario Lemina telah menunjukkan bahwa ia dapat melakukan banyak hal di musim yang menjanjikan dalam warna hitam dan putih dari Juventus.

    Secara konsisten dapat diandalkan ketika dipanggil, wakil lini tengah yang telah memberikan penutup yang sangat baik untuk posisi tengah dan telah membuktikan bahwa, dengan waktu, menjadi salah satu yang terbaik.

    Dua gol telah dicetak pemain internasional Gabon tersebut sejauh musim ini, yang pertama saat memperkecil ketinggalan di Stadion San Paolo pada bulan September, yang kedua terjadi dengan cara luar biasa dimulai dari menggiring bola, keseimbangan dan penyelesain sempurna untuk mengklaim poin penuh melawan Atalanta pada bulan Maret.

    #20: SIMONE PADOIN ☆

    Respon dari penggemar dan pemain sama untuk pemain pengganti Simone Padoin yang mencetak gol terakhir melawan Palermo dalam kemenangan 4-0 pada Minggu lalu di Juventus Stadium, kami harus memberitahu Anda sebagian dari apa yang Anda perlu tahu tentang Bianconeri bernomor 20.

    Pekerja keras, rendah hati, menghormati rekan satu timnya dan seorang pemain serta pribadi yang dibutuhkan oleh skuat yang sukses di ruang ganti, Anda akan kesulitan menemui Bianconeri yang secara keseluruhan lebih dihormati dan dihargai Bianconeri dari pada Simone.

    Mengisi posisi rekan-rekannya yang cedera dengan bermain mengagumkan pada awal yang sulit untuk musim ini, tahun ini, seperti empat sebelumnya, kekuatan lain dari pemain berusia 32 tahun tersebut adalah fleksibilitas yang unik dan permainan ketat di udara.

    Seorang bek kanan, seorang pengatur, gelandang box-to-box, pemain sayap, perebut bola ... seorang juara lima kali dan tidak diragukan lagi anggota terakhir dari Magnificent Eight ini merupakan salah satu pahlawan Juventus.

    #22: KWADWO ASAMOAH

    Bugar, kuat, cepat, serbaguna, sederhana, dan pekerja keras, setiap tim akan senang untuk memiliki seorang Kwadwo Asamoah dalam barisan skuat mereka. Untungnya, selama empat musim terakhir kami merupakan tim yang merasakan kontribusinya.

    Kunci gelar Scudetto yang kedua dan ketiga adalah berkat energi tak terbatas dan kualitas serbaguna Asamoah, dua musim terakhir sangat sulit bagi Kwadwo yang mengalami cedera cukup lama dan keluar dari tim utama namun pada tahap penutupan musim ini setidaknya penggemar Bianconeri berharap bahwa ia akan segera kembali dalam performa terbaiknya.

    Permainan hebat saat bermain penuh untuk pertama kali selama 90 menit dari musim ini melawan Udinese pada bulan Januari lalu lebih dari menunjukkan keramahan dalam popularitas sang pemain asal Ghana di antara para fans yang tak diragukan lagi akan berharap untuk melihat lebih banyak dari dia musim depan.

    #37: ROBERTO PEREYRA

    Tucumano telah menepi cukup lama karena cedera dan sejauh ini belum kehilangan atribut terbaik yang ia miliki sebelumnya: kemampuan untuk mengatur tempo laga, untuk merebut kembali bola, dan mengirimkan kembali ke rekan-rekannya untuk menyerang. Pada titik ini pertanyaan muncul: jika dalam keadaan tersebut Juve dapat membalikkan ketertinggalan di liga menjadi tak terhentikan, apa yang dapat terjadi jika mereka memiliki Roberto Pereyra sepanjang musim penuh?

    #21: PAULO DYBALA

    Ketika anda mencetak gol yang membungkus raihan trofi pada saat baru masuk 14 menit dalam debut anda, mungkin anda tahu itu akan menjadi tahun anda.

    Dan memang tahun yang luar biasa bagi Paulo Dybala yang mengakhir musim ini sebagai pencetak gol terbanyak Bianconeri dan terbanyak kedua sebagai pembuat assist. Musim pertama berseragam hitam-putih yang sungguh tidaklah buruk!

    Tapi bukanlah jumlah gol sang talenta bernomor punggung 21 itu yang mengambil hati para suporter, melainkan kualitas gol-gol tersebut.

    Kontrol lincah dan sepakan voli manis ke gawang Milan, tembakan sempurna ke gawang Lazio, lesatan dingin ke gawang Fiorentina, sontekan tanpa melihat bola ke gawang Roma, tembakan melengkung khas ke gawang Verona, Frosinone dan Sassuolo, belum lagi dua gol hebat ke gawang Udinese dan Lazio, kesemuanya adalah gol yang menunjukkan kemampuan teknik tinggi dan sangat penting bagi raihan gelar musim ini.

    Akan tetapi gol-gol tersebut hanyalah bagian dari apa yang menjadikan Dybala sebagai figur kunci bagi Sang Nyonya Tua. Pada kesempatan-kesempatan tertentu ketika ia tidak terhubungan dengan seorang rekan setim atau tidak menghasilkan suatu momen ajaib darinya sendiri, La Joya tak henti-hentinya mengelabui para pemain belakang lawan, berlari jauh untuk membuka ruang bagi pemain-pemain lain atau beraksi sebagai penghubung penting antara lini tengah dan lini depan.

    Ia mungkin tidak bisa menjawab kuis trivia Tahun Baru China dan masih menunggu agar diijinkan bermain basket dengan sang pelatih tapi semua aksi, semua gaya DAB, semua energi yang dimiliki sang pemuda Argentina lebih dari itu semua.

    Dua kali menjadi pemain terbaik bulanan dan penantang utama pencetak gol terbanyak musim ini, Paulo Dybala kini pantas menjadi juara Italia.

    #9: ALVARO MORATA

    Menjadi pemain berharga di Liga Champions setelah menyamai rekor Alessandro Del Piero dalam rentetan gol dalam lima laga beruntun di kancah Eropa dan menyuplai assist cantik buat Juan Cuadrado di Munich, Alvaro Morata mengisi tahun ini dengan lesatan gol-gol berkesan, prestasi-prestasi pribadi dan gocekan-gocekan tak kenal lelah sebagai ciri khasnya.

    Di kancah domestik, dua gol Alvaro Morata ke gawang Inter di Piala Italia dan ke gawang Chievo dan Torino di Serie A menegaskan kembali statusnya sebagai penyerang paling mematikan di Serie A dan pengambil tendangan penalti paling dingin.

    Dengan permainannya yang tanpa cacat, sang pemuda Spanyol telah menunjukkan bahwa ia mampu berperan sebagai pemain target seperti halnya ia mampu berperan sebagai penghubung antar lini, menjadikannya salah satu pemain depan yang lengkap di Serie A.

    Apakah ia menjadi juara dalam kuis Tahun Baru Imlek, atau pintar menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para member junior di Vinovo, atau makan malam bersama para fans, atau mengantar sahabatnya Simone Zaza berlatih, Alvaro telah menunjukkan dirinya juga dapat melakukan hampir segalanya di luar lapangan.

    #VamosAlvaro

    #17: MARIO MANDZUKIC

    Saat dikenalkan pertama kali sebagai seorang pemain Juventus, Mario Mandzukic mengatakan bahwa salah satu hal terbaik tentang bergabung dengan Bianconeri adalah bahwa dirinya tak akan bisa bermain melawan Juve lagi.

    Delapan bulan berjalan, para pemain bertahan di seluruh penjuru negeri berharap mereka tidak berhadapan dengan sang pemain mematikan asal Kroasia itu lagi.

    Biasa merayakan golnya yang kadang tidak masuk akal bersama para suporter, agresi Mandzukic, fisikalitas dan pergerakannya di dalam kotak penalti lawan telah menjadikannya ujung tombak sempurna pada serangan Juve musim ini dan sang penyerang berpengalaman itu memiliki banyak gol krusial atas namanya untuk menunjukkan hal tersebut.

    Mengawali musim ini dengan cara yang keren yakni sebuah sundulan tajam di Shanghai, Mario mengorbankan segalanya untuk mencetak gol ke gawang Manchester City, Atalanta, Empoli, Carpi dan Fiorentina dengan gaya yang serupa demi menjaga laju Bianconeri hingga memasuki musim gugur tapi menyimpan yang terbaik dari dirinya untuk beraksi di awal bulan ini saat melawan Milan.

    Sontekan kepada Morata dari tendangan jauh Buffon, bergerak ke ruang kosong untuk menerima umpan balik dan penyelesaian yang baik untuk menutupnya adalah aksi keren Mandzukic dan khususnya salah satu gol terpenting pada musim ini.

    Dari laga-laga di Piala Italia hingga Natal, ini adalah tahun luar biasa yang patut dirayakan untuk Sang Mario!

    #7: SIMONE ZAZA
    • Juventus vs Sevilla. Jumlah menit di atas lapangan: 10. Gol: 1.
    • Palermo vs Juventus. Jumlah menit di atas lapangan: 7. Gol: 1.
    • Juventus vs Torino. Jumlah menit di atas lapangan: 54. Gol: 2.
    • Juventus vs Hellas Verona. Jumlah menit di atas lapangan: 11. Gol: 1.
    • Juventus vs Napoli. Jumlah menit di atas lapangan: 32. Gol: 1.

    Hanya ada satu kata yang cocok untuk menggambarkan musim ini ketika Simone Zaza meraih Scudetto: meledak-ledak.

    Meledak-meledak karena penyelesaiannya, meledak-ledak karena mentalitasnya di atas lapangan, meledak-ledak karena efek darinya sebagai pemain pengganti, meledak-ledak karena gol tendangan jarak jauhnya ke gawang Napoli saat laga tersisa dua menit yang membawa Juve ke puncak klasemen untuk pertama kalinya di salah satu malam paling tak terlupakan di Juventus Stadium, selamanya.

    Menyediakan kecepatan, kekuatan dan hasrat kepada kuartet penyerang Juve, Zaza telah menjadi tambahan inspirasi bagi skuat Bianconeri dan gol-gol telatnya yang terkenal telah mempertegas sikap pantang menyerah yang telah menjadi karakteristik di lima tahun raihan Scudetto Sang Nyonya Tua.

    Dari sekian banyak alasan di atas, khususnya gol pemicu sorak-sorai ke gawang Partenopei, musim pertama Simone berseragam hitam-putih yang meriah ini pantas membuatnya segera mendapat pujian dari publik Juventus Stadium.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK