20.01.2016 11:30 - in: Coppa Italia S

    Sekilas mengenai Biancocelesti

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Jelang laga Coppa Italia Bianconeri di ibu kota, Juventus.com melihat lebih dekat dari performa kandang calon lawan, rencana taktik dan pemain yang harus diwaspadai
    KENYAMANAN DI KANDANG DAN YANG HARUS MENJADI PERHATIAN

    Kenyataan bahwa Lazio memiliki rekor kandang terbaik ketujuh di liga musim ini hampir tidak menceritakan setengah dari kisah musim mereka sejauh ini.

    Setelah periode pembuka dengan lima kemenangan beruntun di Stadio Olimpico (melawan Bologna, Udinese, Genoa, Frosinone dan Torino), dimana ia mencetak 11 kali dan hanya kebobolan sekali, mereka hanya meraih tiga poin dari lima laga selanjutnya di hadapan para pendukung mereka, imbang melawan Palermo, Sampdoria dan Carpi serta kalah dari Milan dan Juventus. Sebagai tambahan, mereka harus menerima kekalahan di derby pertama mereka musim ini, dimainkan di stadion yang sama, melawan rival sekota Roma.

    Lazio memiliki rekor kandang terbaik ketujuh di Serie A musim ini

    Menambahkan hanya tiga gol dari jumlah keseluruhan gol yang dicetak di ibu kota musim ini (14), Biancocelesti tergelincir ke posisi ke-11 di daftar gol kandang musim ini.

    Di departemen lain, akan tetapi, pasukan Stefano Pioli terus tampil lebih baik secara signifikan dari rata-rata Serie A: 

    Mengalihkan perhatian kepada kemenangan Coppa Italia di babak 16 besar atas Udinese, Lazio memberikan penampilan yang lebih memimpin dibandingkan biasanya, memiliki penguasaan bola yang lebih besar (68.31%), menciptakan 15 peluang mencetak gol dan melepaskan sembilan tembakan mengarah gawang.

    Dari sudut pandang defensif, mereka mungkin membuat lebih sedikit tekel (6) dan intersepsi (16) dibandingkan yang normalnya mereka lakukan di liga, namun itu sebagian besar juga ditentukan oleh kurang tajamnya ancaman lawan di lini serang, seperti yang dibuktikan di gambar area pergerakan berikut: 

    Udinese (kanan) hanya mampu melakukan empat sentuhan di area penalti Lazio, berbanding terbalik dengan Biancocelesti lakukan di kotak lawan.

    Di kompetisi benua biru, sementara itu, penggemar Biancocelesti memiliki alasan untuk lebih optimis jelang pertemuan dua putaran tim mereka melawan Galatasaray di babak berikutnya Liga Eropa, setelah mengamankan poin maksimal dan mencetak tiga gol di tiap laga fase grup yang dimainkan di ibu kota (melawan Saint-Etienne, Rosenborg dan Dnipropetrovsk). 

    PERUBAHAN SECARA FORMASI

    Sejauh musim ini, Stefano Pioli lebih sering menurunkan timnya dengan formasi 4-2-3-1 dengan kesuksesan yang beragam. Sementara formasi tersebut menghasilkan lebih banyak kemenangan di awal kampanye, efeknya tampak hilang di sepanjang musim dingin, membuat pelatih berusia 50 tahun itu harus mengubah taktik dan secara bertahan menurunkan formasi 4-3-3 yang lebih ofensif. 

    1 November 2015: Lazio kalah 3-1 di kandang atas Milan. Biancocelesti (kiri) hanya menyentuh bola delapan kali di area serang Rossoneri: hanya separuh dari yang dilakukan tim tamu.

    Perubahan formasi yang diturunkan telah memberikan hasil akhir-akhir ini, termasuk kemenangan tandang prestisius melawan Inter dan Fiorentina dan kemenangan Coppa di kandang atas Udinese. Sementara hasil imbang di Carpi dan Bologna telah sedikit mengurangi semangat, tapi tampaknya Pioli akan bertahan dengan formasi tersebut untuk laga keenam beruntun.

    9 Januari 2016: Lazio menang tandang 3-1 atas Fiorentina, memberikan ancaman yang jauh lebih besar di area penalti lawan (16 sentuhan) dari dua bulan sebelumnya saat melawan Milan.
    PEMAIN BERBAHAYA

    Formasi 4-3-3 yang terakhir diadopsi oleh Pioli tampaknya menghidupkan kembali penyerang sayap Lazio, Felipe Anderson dan Antonio Candreva. Sang pemain Brazil menanggung beban tidak mencetak gol di seluruh kompetisi sejak dua golnya melawan Torino pada 25 Oktober, namun akhir-akhir ini kembali menemukan ketajamannya, mencetak gol masing-masing melawan Udinese dan Fiorentina.

    Candreva juga kembali ke performa terbaiknya akhir-akhir ini, mencetak dua gol di San Siro melawan Inter sebelum mencetak gol pertama dari dua gol Lazio melawan Bologna hari Minggu lalu.

    Tandang di Florence, Lazio (kanan) melepaskan hampir setengah serangan mereka dari sayap kanan, dimana Antonio Candreva menjadi ancaman konstan sepanjang 90 menit.

    Berpindah ke pusat serangan, Alessandro Matri bermain 85 menit dan mencetak gol di babak terakhir Coppa Italia melawan Udinese, dan dapat diturunkan sejak awal nanti melawan mantan klubnya dimana ia mencetak gol kemenangan melawan timnya saat ini di final tahun lalu.

    Penyerang Lombardi berusia 31 tahun ini akan memperjuangkan tempatnya di lini depan dengan Filip Djordjevic, dimana pemain Serbia tersebut lebih sering dipilih untuk diturunkan di dua laga terakhir di Florence dan Bologna, dan Miroslav Klose, yang menjadi penyedia dari dua gol terakhir timnya.

    Stefano Pioli memiliki tiga penyerang tengah yang mengincar posisi awal: Matri (kiri), Klose (tengah) dan Djordjevic (kanan).

    Pemain-pemain lain yang lini belakang Juve harus waspadai adalah Keita Balde dan Lucas Biglia. Yang pertama juga telah membuat Anderson tersingkir dari susunan pemain awal dalam beberapa kesempatan musim ini dan ikut mencetak gol di Stadio Artemio Franchi pada 9 Januari.

    Sementara itu, kapten Biancocelesti Biglia telah mencetak empat gol dari lini tengah di seluruh kompetisi sepanjang 2015/16.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK