24.01.2016 11:00 - in: Serie A S

    Spalletti di bawah sorotan

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Saat Luciano Spalletti bersiap untuk laga keduanya dalam periode keduanya di kursi kepelatihan Giallorossi, Juventus.com melihat lebih dekat dari ahli taktik Roma asal Tuscan ini
    KETENARAN DIMULAI DARI ROMA

    Lahir di kota Certaldo di Tuscan, Luciano Spalletti menghabiskan seluruh karir bermainnya di liga lebih rendah seperti Spezia, Viareggio dan Empoli. Adalah bersama Empoli saat Spalletti, setelah menggantungkan sepatunya pada 1993, merasakan pengalaman manajerial pertama. Masanya bersama dengan Azzurri merupakan sebuah kebangkitan, diawali dengan lolos dari ancaman degradasi dari divisi ketiga sebelum memastikan promosi beruntun ke Serie A di 1997.

    Setelah mengamankan mereka di musim berikutnya dari divisi teratas Italia, Spalletti mengalami periode empat tahun yang bergolak, berganti klub antara Sampdoria, Venezia dan Ancona, sebelum kembali ke Udinese pada 2002. Disana ia melakukan magisnya dengan memimpin Zebrette ke UEFA Cup di 2004 dan kemudian Liga Champions di 2005 – kualifikasi pertama tim asal Friuli ini di kompetisi utama Eropa.

    Prestasinya di Italia timur laut Italia memperoleh perhatian dari ibu kota dan pada musim panas tersebut ia pindah ke selatan untuk mengambil alih komando di Roma. Tiga musim pertamanya dengan Giallorossi memperlihatkan kemajuan yang stabil, mengakhiri musim 2007/08 di posisi kedua dengan 82 poin. Dalam musim itu, ia juga memimpin klub kepada Piala Super Italia kedua sepanjang sejarah mereka dan Coppa Italia kedua beruntun – yang juga merupakan trofi terakhir yang dimenangkan oleh Roma.

    Setelah berakhir di posisi keenam pada musim 2008/09, Spalletti memutuskan pindah ke Zenit St. Petersburg, dimana ia meraih trofi lainnya lagi yaitu dua gelar Liga Primer Rusia serta dua Piala Rusia.

    Setelah menghabiskan 20 bulan tanpa melatih, pria berusia 56 tahun ini kembali diangkat oleh Roma sebagai pelatih pada 14 Januari tahun ini, menggantikan Rudi Garcia yang meninggalkan klub setelah serangkaian hasil yang tidak konsisten.

    TANGGUNG JAWAB DALAM MENYERANG

    Tidak diragukan lagi Ia seorang pengusung sepakbola menyerang, era Spalletti musim 2005-09 menjadi ancaman konstan dalam sepertiga akhir lapangan, rata-rata hampir mencetak dua gol per pertandingan.

    Empat tahun masa jabatannya waktu itu juga mengubah karir kapten klub, Francesco Totti. Lebih sering bermain sebagai penyerang kedua atau Playmaker di musim sebelumnya, Spalletti mengubah posisi mantan pemain internasional Italia tersebut sebagai penyerang tengah.

    Langkah ini memberikan hasil yang sangat baik, tidak hanya itu Totti mampu menunaikan tugasnya dengan baik dengan kemampuan penyelesaiannya yang mematikan, rata-rata ia mencetak lebih dari 20 gol di semua kompetisi dalam empat musim di bawah Spalletti, penyerang kelahiran Roma ini juga menjadi roda penggerak utama sebagai penghubung di lini depan dan ia mampu memberikan 37 assist untuk rekan-rekannya dalam periode waktu yang sama.

    Pemain kunci lain dari komponen serangan tim ini adalah Simone Perrotta, yang beroperasi sebagai gelandang serang tepat di belakang Totti, pemain sayap Amantino Mancini dan Rodrigo Taddei, sementara ia juga memiliki kecenderungan untuk memainkan deep-lying playmaker dalam diri David Pizarro dan Alberto Aquilani.

    Dengan kecepatan Mancini dan kelihaiannya dalam menggiring bola di sektor sayap, serta semangat juang tak kenal lelah Taddei di sisi sayap lainnya, Perrotta menjalani peran box-to-box dan sering menentukan bola kiriman dari para pemain seperti Pizarro dan Aquilani, lini serang Roma merupakan ancaman serius bagi pertahanan tim di seluruh divisi.

    Namun, kelemahan utama dari gaya bermain tancap gas ini adalah tingkat kebobolan yang jauh lebih tinggi dari tim asuhan Rudi Garcia yang selama dua setengah tahun terakhir menangani Roma, seperti yang terlihat dalam tabel di bawah ini:

    Sementara itu, hal yang jelas juga adalah untuk semua tembakan mereka, bagian yang lebih rendah dalam mencapai target atau bahkan menciptakan gol, dibandingkan dengan statistik mencolok dari tim Garcia.

    DARI LINI TENGAH KE SAYAP

    Bukan rahasia bahwa Spalletti merupakan penikmat formasi 4-2-3-1 dan ini ia gunakan selama pertandingan pertamanya sejak kembali bertugas akhir pekan lalu melawan Hellas Verona.

    Memang, orang mungkin mengharapkan 4-3-3 yang sering diadopsi oleh Garcia harus dihapus sama sekali, pelatih asal Tuscan sudah memiliki ciri khas tersendiri di tim dengan sejumlah perubahan taktis seperti awal empat tahun masa jabatan sebelumnya di ibu kota.

    9 Januari 2016: Roma menurunkan formasi 4-3-3 melawan Milan di laga terakhir Garcia sebagai pelatih

    Perubahan besar pertama yang diperkenalkan dalam pertandingan Minggu lalu di Stadion Olimpico adalah merubah posisi dua gelandang penting nya, Radja Nainggolan dan Miralem Pjanic. Padahal sebelumnya, pemain internasional Belgia dan Bosnia telah bermain berdampingan, sedikit di depan Daniele De Rossi, Spalletti mendorong Nainggolan lebih jauh ke depan ke posisi yang sebelumnya diduduki oleh Perrotta, sementara Pjanic bersama dengan De Rossi memainkan peran deep lying playmaker, yang dulu pernah diperankan oleh Pizzarro dan Aquilani. 

    Salah satu efek potensial dari 'perubahan komposisi' ini adalah akan kembali hebatnya Nainggolan dalam memburu gol, seperti tahun lalu (lima gol dan empat assist) namun sejauh musim 2015/16 ini ia sangat menurun dan baru mencetak satu gol saat menghadapi Gialloblu. Pjanic, sementara itu, terkenal karena kemampuannya mengeksekusi bola mati dan sekarang akan bertugas untuk terus mengalirkan bola dan berkontribusi dengan assist dari posisi di depan para pemain belakang.

    Nainggolan mencetak gol pertamanya musim ini melawan Hellas Verona.
    Florenzi dan Pjanic juga ditempatkan di posisi baru di bawah kepelatihan Spalletti.

    Satu orang yang membuat perkembangan lebih baik adalah Alessandro Florenzi. Pemain berusia 24-tahun itu lebih banyak bermain sebagai bek sayap selama kepemimpinan Garcia, tapi sekarang Ia tampaknya akan diberikan posisi baru sebagai salah satu pemain yang diberi kebebasan oleh Spalletti untuk ditempatkan di kedua sisi Nainggolan.

    Transformasi khusus ini juga memiliki contoh dari dekade sebelumnya, ketika Aleandro Rosi, bek kanan saat itu, didorong ke depan untuk menjadi sayap kanan, yang kemudian sukses mencetak gol melawan Parma dan Messina pada musim 2006/07.

    Ada kemungkinan bahwa Florenzi akan berkembang ke tingkat yang lebih besar dalam posisi menyerang ini, setelah memulai karir di Giallorossi sebagai sayap pada tahun 2012.

    Share with:
    • 1
    • 3
    • 2
    Information on the use of cookies
    This website uses cookies and, in some cases, third-party cookies for marketing purposes and to provide services in line with your preferences.
    If you want to know more about our cookie policy click here.
    By clicking OK, or closing this banner, or browsing the website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.
    OK